Kabul (ANTARA News)- Presiden-presiden Pakistan dan Afghaistan, Minggu berjanji untuk bekerjsamna memerangi ancaman keamanan bersama dari gerilyawan Taliban dan milisi Al Qaeda. Presiden Pakistan, Pervez Musharraf, mengemukakan bahwa pada penutupan satu pertemuan bahwa para politikus Afghanistan dan Pakistan, serta para pemimpin suku di ibukota Afghanistan, Kabul, yang bertujuan untuk bekerjasama lebih erat dua sekutu Amerika Serikat (AS) yang sering bertikai itu. Pertemuan perdamaian bersama itu mengakui dengan tegas fakta bahwa terorisme adalah ancaman bersama bagi kedua negara dan perang terhadap teror harus dilanjutkan menjadi satu bagian integral kebijakan-kebijakan nasional dan strategi keamanan kedua negara," kata satu deklarasi yang disetujui para delegasi jirga. "Tidak ada pilihan lain bagi kedua negara kecuali perdamaian dan persatuan, kepercayaan dan kerjasama," kata Musharraf. "Tidak ada justifikasi bagi usaha terorisme," ujarnya, seperti dikutip Reuters. Para pejabat Afghanistan sering menuduh Pakistan menampung gerilyawan Taliban dan Al Qaeda untuk melemahkan tetangganya. Pakistan membantah tuduhan itu, tapi Musharraf mengakui gerilyawan beroperasi dari daerah-daerah suku Pakistan yang sebagian berada di luar kendali pemerintah di sepanjang perbatasan Afghanistan. "Tidak diragukan para gerilyawan Afghanistan didukung dari daerah Pakistan. Masalah yang anda hadapi di wilayah anda adalah karena dukungan diberikan dari pihak kami," katanya. Kedua negara berjanji tidak akan mengizinkan pusat-pusat penampungan dan pelatihan bagi gerilyawan di daerah mereka. Musharraf tidak hadir pada pembukaan pertemuan empat hari sejak Kamis dengan alasan ada janji di dalam negeri. Ketidakhadiran Musharraf dianggap sebagai satu pukulan terhadap pertemuan yang sudah diboikot oleh sejumlah para pemimpin suku Pakistan itu. "Sangat membahagiakan bahwa jirga antara dua negara dibuka," kata Presiden Afghanistan Hamid Karzai dalam pidato singkat. "Pertemuan berakhir dengan hasil-hasil yang baik, berhasil dan satu pesan bagi kedua negara," ujarnya. Pertemuan kedua akan diselenggarakan di Pakistan pada satu tanggal yang belum ditetapkan, kata mereka. Pertemuan tradisional (jirga) itu berlaku di kalangan suku-suku Pashtun yang tinggal di dalam perbatasan kedua negara , di mana para para pemimpin suku menggunakan konsensus untuk mengusahakan penyelesaian secara damai sengketa-sengketa. (*)

Pewarta:
Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2007