Banyuwangi (ANTARA) - Tiga seniman di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, meraih Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2024 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Ristek, dan Teknologi (Kemendikbudristek) karena berprestasi dan berkontribusi dalam pemajuan kebudayaan di Tanah Air.

Ketiganya yakni Temu Misti (seniman Tari Gandrung Banyuwangi), Siami (penenun Wastra Using), dan Yusuf Senari (penyalin kitab Lontar).

"Selamat kepada Bu Temu Misti, Bu Siami, dan Pak Senari, yang telah mengharumkan nama Banyuwangi. Kami sangat bangga dengan para maestro yang hingga saat ini masih menjaga dan melestarikan kebudayaan yang ada di Banyuwangi," kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dalam keterangannya di Banyuwangi, Kamis.

Baca juga: Kemendikbud: Dedikasi penggerak budaya tumbuhkan rasa cinta kebudayaan

Penghargaan Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2024 ini, menurutnya, merupakan bentuk pengakuan bagi para pelestari kesenian dan budaya yang selama ini berjuang dalam merawat kekayaan di kabupaten ujung timur Pulau Jawa itu.

"Pemkab Banyuwangi juga terus berupaya merawat berbagai kesenian dan kebudayaan yang ada di Banyuwangi agar tetap lestari," kata Ipuk.

Temu Misti merupakan salah satu pelestari kesenian Tari Gandrung yang masih eksis hingga saat ini. Ia menerima penghargaan AKI 2024 untuk kategori Maestro Seni Tradisi.

Sosok wanita yang akrab disapa Mbok Temu itu dikenal luas sebagai penari yang mengabdikan hidupnya untuk melestarikan tari khas Banyuwangi.

Baca juga: Anugerah Kebudayaan diberikan pada penggerak pemajuan budaya

Keberhasilan Mbok Temu dalam mengajarkan dan memperkenalkan Tari Gandrung kepada generasi muda menjadi salah satu alasan utama ia menerima AKI 2024. Mbok Temu dianggap menginspirasi banyak orang untuk terus melestarikan seni tari tradisional ini.

Sementara Siami, merupakan satu-satunya penenun kain Wastra Using tradisional yang masih bertahan di Banyuwangi. Ia menerima penghargaan AKI untuk kategori Pelestari. Sedangkan Senari adalah penyalin Kitab Lontar Yusuf, kitab kuno yang tertulis dengan aksara pegon dan berisi tentang kisah Nabi Yusuf. Ia juga menerima penghargaan untuk kategori Pelestari.

Baca juga: Kemendikbudristek berikan dana apresiasi tahunan kepada 44 seniman

Pewarta: Novi Husdinariyanto
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2024