Hampir 50 persen dari cadangan karbon mangrove yang masih bagus ini akan hilang apabila mangrove ini dikonversi menjadi tambak
Jakarta (ANTARA) - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Virni Budi Arifanti mengatakan konversi mangrove akan melepas karbon secara masif dan membutuhkan ratusan tahun untuk mengembalikan kondisi cadangan karbonnya sebelum terjadi pengalihan fungsi.

Dalam diskusi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) yang diikuti daring dari Jakarta, Jumat, Peneliti BRIN Virni menjelaskan bahwa mangrove memiliki kemampuan untuk menyerap dan menyimpan karbon sehingga kerusakan ekosistem itu akan menghasilkan terlepasnya emisi gas rumah kaca (GRK) dalam jumlah besar.

Baca juga: Pelindo dukung aksi iklim lewat perlindungan ekosistem karbon biru

Merujuk kepada penelitian yang dilakukannya di wilayah delta Sungai Mahakam, dia mengatakan konversi mangrove dalam kondisi baik menjadi tambak menghasilkan emisi GRK yang sangat besar.

"Hampir 50 persen dari cadangan karbon mangrove yang masih bagus ini akan hilang apabila mangrove ini dikonversi menjadi tambak," katanya dalam diskusi diadakan dalam rangka Hari Mangrove Sedunia, yang diperingati setiap 26 Juli.

Dalam penelitiannya, dia menghitung bahwa jika tambak bekas lahan mangrove itu beroperasi selama 16 tahun, maka upaya pemulihan untuk bisa mengembalikan kondisinya seperti semula, dengan jumlah penyimpanan karbon di tanah yang sama, membutuhkan waktu sekitar 226 tahun.

Baca juga: Kelapa sawit dinilai komoditas paling siap dukung NZE sektor industri

"Ternyata memang kemampuan mangrove untuk melepaskan karbon ketika terganggu itu sangat tinggi sehingga upaya kita kalau kita mau mengembalikan kondisi tanah mangrove seperti dalam kondisi intact itu butuh waktu yang lama," jelasnya.

Di sisi lain, ekosistem mangrove yang sudah terdegradasi perlu dilakukan rehabilitasi dengan dilakukan penanaman kembali.

Upaya rehabilitasi mangrove, jelasnya, akan dapat membantu mengembalikan biomassa permukaan atas tanah dan bawah tanah setidaknya untuk menyamai mangrove yang masih alami. Meski belum dapat mengembalikan kondisi cadangan karbonnya seperti semula.

Baca juga: Pemerintah sebut ada dua fase dalam penerapan pajak karbon

 

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2024