"Smart village adalah pembangunan desa yang berbasis penerapan teknologi tepat guna," ujar Mendes PDTT dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin.
Dengan penerapan teknologi, ia berharap, desa bisa melakukan berbagai capaian sehingga masuk kategori desa mandiri. Namun, pemanfaatan teknologi tidak boleh mematikan budaya dan tradisi yang ada.
Baca juga: Telkom: Pengembangan desa cerdas dorong aktivitas ekonomi
Baca juga: "Desa Cerdas" tingkatkan aktivitas ekonomi di desa, kata Mendes PDTT
"Fakta ini harus dimanfaatkan. Misalnya, memanfaatkan media sosial sebagai media promosi desa wisata atau menggunakan aplikasi tertentu untuk bisa mengakses laporan dana desa," kata Gus Halim, demikian ia biasa disapa saat menerima kunjungan Gubernur Sulawesi Tengah Rusdy Mastura.
Banyak manfaat yang bisa diambil dari pemanfaatan teknologi dalam program desa cerdas, diantaranya masyarakat akan mendapatkan pendampingan dalam mengembangkan layanan dasar maupun pengembangan ekonomi lokal.
Kemudian, membuka peluang bagi masyarakat desa untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak, dan membuka akses masyarakat antara wilayah perkotaan dan perdesaan.
"Diharapkan dengan desa cerdas ini maka akan muncul smart mobility, smart enviroment, smart economy, maupun smart living," katanya.
Pada 2022, pilot project smart village akan dilaksanakan di tiga Kabupaten Sulawesi Tengah, yakni Parigi Moutong, Sigi, dan Banggai. Di tiga daerah itu akan dilakukan pilot project hingga 20 desa per kabupaten.
"Pilot project-nya bertahap. Tahun depan tiga kabupaten dulu, tahun berikutnya di kabupaten lain," ujar Gus Halim.
Baca juga: Gubernur Kaltim: cerdas cermat desa penyemangat pembangunan
Baca juga: Loram Wetan desa cerdas kedua di Indonesia
Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
Copyright © ANTARA 2021