Wham membela diri dengan mengatakan bahwa ia hanya berdiri depan kantor kepolisian sambil membawa spanduk bergambar sebuah wajah yang tersenyum pahit.
Kepolisian, Kamis (19/11), memberi tahu Wham bahwa ia akan dipanggil ke pengadilan untuk menjalani sidang penuntutan pada Senin (23/11).
Wham, aktivis hak-hak sipil di Singapura, kerap bersinggungan dengan aparat di negara itu, yang mengontrol ketat perkumpulan masyarakat dan kebebasan berpendapat, serta pemberitaan di media.
Tuntutan itu terkait dengan insiden pada Maret 2020, saat ia berdiri di depan kantor kepolisian sambil memegang poster aksi dan berfoto.
Aksinya itu merupakan bentuk dukungan terhadap seorang aktivis lingkungan muda yang diinterogasi oleh polisi karena berunjuk rasa beberapa hari sebelumnya.
Usai menggelar aksi protes singkat seorang diri, Wham mengunggah foto dirinya sambil memegang poster bergambar simbol orang tersenyum, di media sosial.
On Thursday, a climate justice activist was taken into police custody for questioning and had his phone and laptop seized in the process. He wore a facemask and held up a cardboard placard. This is me showing my support. pic.twitter.com/pnoa4dNMGG
— Jolovan Wham (@jolovanwham) March 28, 2020
Menurut surat keterangan yang diunggah Wham di Twitter, ia dituntut melanggar Undang-Undang Ketertiban Umum, yang mengatur perkumpulan masyarakat dan kegiatan di tempat-tempat umum. Wham pada tahun ini telah menjalani dua hukuman kurungan singkat di penjara.
I barely stayed in the area for more than several seconds. Yet, what I did has been deemed as a public protest by the State. #FreedomOfExpression #freedomofassembly pic.twitter.com/WBXx8x5ZK4
— Jolovan Wham (@jolovanwham) November 19, 2020
Namun untuk kasus terbarunya, ia terancam kena hukuman denda sebesar 5.000 dolar Singapura (sekitar Rp52,87 juta).
Kepolisian Singapura membenarkan bahwa Wham telah diberi tahu soal tuntutan tersebut, namun pihak kepolisian tidak bersedia memberi keterangan lebih lanjut.
"Tuntutan terhadap saya hanya memperlihatkan betapa absurd situasi yang akan terjadi kemudian," kata Wham saat dihubungi via pesan singkat. Kepada majelis hakim, ia berencana menyatakan dirinya tidak bersalah.
"(Mereka, red) menyebut yang saya lakukan adalah perkumpulan, itu merupakan penghinaan terhadap Bahasa Inggris. Bagaimana satu orang yang berdiri di ruang publik dalam waktu beberapa detik untuk foto dianggap mengancam ketertiban umum?" tanya dia.
Peneliti Amnesty International wilayah Asia Selatan, Rachel Chhoa-Howard, mengatakan insiden itu merupakan contoh lain pemidanaan aksi damai di Singapura.
Sumber: Reuters
Baca juga: Keponakan PM Singapura didenda Rp159 juta karena menghina pengadilan
Baca juga: Kepolisian Singapura tangkap pengacara yang akan bela penghina PM
Baca juga: Singapura denda Grab dan Uber jutaan dolar
Hari pertama pengaturan koridor perjalanan RI-Singapura sepi
Penerjemah: Genta Tenri Mawangi
Editor: Tia Mutiasari
Copyright © ANTARA 2020