Jakarta (ANTARA News) - Sebanyak 73 persen atau 950 dari 1.300 kios yang berada di Pasar Ciputat, Kabupaten Tangerang, kini dalam keadaan kosong karena para pedagang lebih memilih berjualan di bahu jalan.

"Kita telah melakukan berbagai upaya dalam bentuk imbauan, dan mengundang rapat agar para pedagang mau menempati kios yang disediakan. Namun upaya tersebut tetap saja tidak membuahkan hasil," kata Kepala Pasar Ciputat Odih Dupriyatna, Rabu.

Para pedagang banyak yang menempati ruas bahu jalan sepanjang Jalan Aria Putra, dan di sekitar trotoar Jalan Dewi Sartika. Karena ruas jalan dipakai pedagang, menyebabkan kesemrawutan, dan kemacetan di jalan-jalan sekitar Pasar Ciputat.

Menurut Odih, agar pedagang mau pindah ke kios yang disediakan tidak cukup dengan imbauan.

"Mereka perlu digiring agar pindah, dan perlu upaya untuk melengkapi sarana dan prasarana di pasar," katanya.

Ditanya apakah diperlukan tindakan tegas, Odih mengatakan saat ini bukan zamannya lagi untuk melakukan tindakan tegas.

Dia menyebutkan banyak faktor yang menyebabkan masih kosongnya kios Pasar Ciputat seperti kurangnya sarana dan prasarana, dan struktur pengelola pasar yang masih terpisah.

"Ibarat disuruh pindah ke rumah baru, kalau sarana di rumah tersebut tidak lengkap, kita tentu tidak akan pindah," katanya.

Odih mengatakan di Pasar Ciputat perlu dibangun beberapa tangga agar akses menuju lantai II dan III lebih mudah. Selama ini, akses tersebut menjadi kendala bagi pembeli dan para pemilik kios.

Selain itu, di pasar Ciputat juga tidak ada tempat parkir dan tempat pembuangan sampah. Akibatnya, kendaraan diparkir memakan badan jalan. Sementara sampah, dibuang dan di tumpuk di depan kios.

Karena itu, Odih mengusulkan ke depan untuk dibangun tangga, tempat pembuangan sampah sementara (TPS), dan tempat parkir.

Menyangkut struktur pengelola pasar, dia mengakui adanya pemisahan antara pengelola pasar, kebersihan, dan keamanan, menyebabkan kendala dalam koordinasi.

"Tiga unit tersebut mestinya satu atap, dan tidak dipisahkan. Hal ini bisa dilihat pada pengelolaan pasar tradisional di Jakarta yang ditangani PD Pasar Jaya," katanya.


Kurang tegas

Salah seorang pedagang yang menempati lantai III Pasar Ciputat, Muslim (50) mengatakan tidak selesainya masalah pedagang kaki lima di pasar itu karena kurang tegasnya pengelola pasar.

"Kalau pedagang kaki lima dibiarkan berdagang di bawah, tentu tidak ada pembeli yang akan belanja di lantai atas. Seharusnya pengelola pasar bertindak tegas, bukan membiarkan begitu saja," kata pria yang berjualan pakaian tersebut.

Dia juga mengkritik kebijakan pengelola pada yang membiarkan pedagang berjualan di tangga menuju lantai II dan III.

"Di tangga pedagang dibiarkan berjualan, pembeli yang akan naik ke lantai atas tentu tidak nyaman," kata pemilik kios Putri Kembar itu.

Sementara Haji Ridwan, pedagang lainnya mengatakan persoalan di Pasar Ciputat sudah sangat rumit karena terlalu banyak sarana pendukung yang tidak tersedia seperti parkir, dan tempat sampah.

Sementara Atik, salah seorang pedagang makanan di luar Pasar Ciputat , mengatakan pedagang tidak mau pindah ke kios yang disediakan karena terlalu mahal kontraknya.

"Dulu saya ingin mengontrak dua kios di Pasar Ciputat. Tapi hargnya kemahalan, Rp20 juta per kios. Akhirnya saya lebih memilih mengontrak di luar," katanya.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009