Jakarta (ANTARA News) - Laporan hasil penelitian ilmuwan Rusia menyatakan bahwa lumpur panas Lapindo di Sidoarjo (lusi) Jawa Timur terjadi akibat kegiatan seismik yang memicu kembali aktifnya gunung lumpur tua yang telah terbentuk sekitar 150.000-200.000 tahun lalu.

"Fenomena lumpur berdasarkan peristiwa alam meletusnya gunung lumpur yang terbentuk ratusan ribu tahun lalu," kata ketua tim ilmuwan Dr Sergey V Kadurin di Jakarta, Kamis.

Tim peneliti dari Rusia mengkonstruksi Sistem Informasi Geologi (GIS) yang memungkinkan menciptakan sebuah model tiga dimensi (3D) dari formasi geologi bawah tanah di area tersebut, kata Sergev Kadurin.

Menurut data tersebut, semburan lumpur panas yang terjadi pada Mei 2006 dipicu karena gempa bumi Yogyakarta yang terjadi dua hari sebelumnya dengan kekuatan 6,3 skala Richter.

Lumpur Lapindo ternyata sudah dipicu oleh dua gempa bumi yang terjadi sekitar 10 bulan pada 9 Juli 2005 dengan pusat gempa tepat di bawah zona letusan lumpur dengan kekuatan gempa 4,4 SR. Kemudian diikuti gempa berkekuatan 5,5 SR yang berjarak sekitar 450 km dari lokasi lumpur.

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa peristiwa gunung lumpur tersebut, saluran lumpur telah ada jauh sebelum adanya pengeboran sumur gas.

"Kita tidak bisa menghentikan kejadian alam seperti gunung lumpur dan pola erupsi juga berbeda-beda," kata Sergev Kadurin.

Maka hasil penelitian tersebut merekomendasikan agar dilakukan monitoring di sekitar lokasi gunung lumpur.

Sementara itu, Senior Manager Geologi Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) Awang Harun Setyana juga mengatakan, gempa bumi sangat signifikan memicu letusan gunung lumpur.

"Banyak gunung lumpur di Pulau Jawa dan daerah tersebut merupakan episentrum. Gempa bumi sangat signifikan memicu letusan gunung lumpur," kata Awang.

Dia mengatakan, erupsi lumpur tidak pernah datang dari lubang sumur tapi berasal dari sesar yang membentuk garis lurus sepanjang 40 km.
(D016/B010)

Pewarta:
Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2010